Belajar melawak.

January 31, 2015 § Leave a comment

190535_komengdlm

Bismillah.

Pernah gue main before after gitu sama vegy. Kaya di ask.fm itu loooh. Jawabannya kocak, beforenya gue orangnya serius banget. Afternya gue orang terkocak di dunia lah? wkwkwkw. Tapi itu jawaban vegy doang, jawaban temen-temen gue yang lain beda sesuai perspektif mereka masing-masing.

Ternyata nge lawak bisa dipelajarin looh. Semua hal di dunia ini emang bisa dipelajarin sih. Termasuk juga melawak. Melawak itu menurut gue udah kaya main bola, ada dasar-dasarnya. Gimana cara buat wajah yang bikin ketawa, gimana caranya menyusun katanya, gimana caranya buat cerita lawakannya. Keren deh gue baru tau juga ternyata bisa di tiru, analisis terus praktekin deh. Kalo garing ya berarti derita lu. wkwkwk. Tapi tunggu dulu, kalo garing lu cek dulu aja medianya pas apa ngga, audience yang mau lu lawakin pas apa ngga. Soalnya menurut gue lawakan cewe sama cowo bedaa. Beda karakter banget deh. Cowo lawakannya lebih ke arah bokep/ bahasa yang kasar-kasar. Kalo cewe lebih gampang ketawa, menurut lu lawakannya garing biasanya mereka juga ketawa hehe.

Gue juga latihan nih gimana caranya buat tulisan lucu, dan ketika orang lagi ngebaca tulisan-tulisan gue bisa ketawa. Kaya raditya dika, shitlicious atau komedian lainnya. Mereka jenius! Pasti bisa ya ga asal mau belajar dan latihan. Semangat

Dokter jarang sakit?

January 31, 2015 § Leave a comment

Bismillah.

Gue udah pernah nulis tentang dulu ngebet banget pengen jadi dokter. Harus jadi dokter pokonya, menolong orang tanpa pamrih. Memberikan pertolongan kesemua orang tanpa liat kasta di dalam masyarakatnya. Kesehatan murah ga mahal lagi. Biarpun harus sekolah lebih lama, beli-beli mayat buat praktek liburan yang kurang lah itu semua gue siap menghadapinya demi menjadi seorang dokter. Klise dan gaya sih, tapi serius di otak gue dulu gitu. Jadi dokter mengabdi untuk tuhan, bangsa dan kemanusiaan. Azig. Tapi sekarang berubah ketiga gue gagal dapet ptn kedokteran, realistis aja sekarang mah, kuliah (dulu) belajar yang bener, kerja dapet duit cepet nikah. EH wakakakaka. Canda semoga aktifitas kita di ridhoi Allah swt ya pembaca blog ini maupun gue aamiin hehe.

Pernah gak sih lu merhatiin dokter tuh jarang banget sakit? Gue sering merhatiin looh. Soalnya contohnya deket banget sama gue, ya om gue dokter dan jarang sakit. Beliau tuh ya perokok berat men, tidurnya berantakan. Olahraga jarang banget. Tapi jarang banget sakit dan gue gapernah gitu liat dia masuk rumah sakit karena dirawat serius. Bahagia mulu padahal kehidupan kesehatannya kacau. Gatau sih gue merhatiinnya gitu. Setelah gue nanya dan mikir-mikir kenapa sih fenomena ini bisa terjadi. Alasan yang paling utamanya sih beliau punya kebiasaan positif think. Misal gini lagi pusing jangan minum obat katanya. Pikirin aja sehat sehat, makan yang banyak dan sehat, tidur bentar nanti juga sembuh. Beliau bilang sendiri kalau obat tuh bahan kimia, ngerusak. Pas ada pasien gausah di cek ke ruangan periksa juga bisa udah langsung ngasih obat katanya. Ngecek2 itu cuman gaya-gayaan biar lebih percaya aja pasiennya, padahal mah pasien yang sakit ngasih tau keluhannya apa juga udah bisa dikasih obat. Itu statemen om gue yang dokter ya bukan kata gue. Tapi ko ngeselin ya? Hahaha begitulah realitanya pada om gue. Tapi jangan di generalisir ya.

Emang sih yang memberikan sehat dan sakit kan Allah swt ya, dokter hanya sebagai “tangan” Allah swt yang diberikan kepercayaan untuk menyembuhkan seseorang yang sakit karena ilmunya yang mumpuni di dunia kesehatan. Tapi sebagai seorang muslim yang bener kita harus cari tau dong alasan logisnya kenapa ini semua bisa terjadi. Semua di muka bumi gaada yang ujug-ujug jadi. Gue percaya semua ada sebab dan akibat. Logisnya dimana kalau positif think bisa nyembuhin? Gue googling dikit juga dapet alasannya disini. Tapi gue buat teori-teorian boleh kan hehe. Kan semua di tubuh kita kan yang mengatur centralnya di otak ya. Terus kalo otak kita suruh untuk bilang “sembuh lu pusing, sembuh sembuh jangan sakit mulu” sel-sel yang ada di kepala memperbaiki diri sendiri dong. Kan otak udah nyuruh sembuh untuk memperbaiki, otomoatis sembuh deh hehehe. Ga se simple itu sih kompleks lah pasti, disitu lah keseruannya karena kompleksitas tadi.

Jadi mari yuk hidup seru untuk terus bersyukur dan positif think-in aja semua hal di dunia ini 🙂

Musim Semi di Arab

January 30, 2015 § Leave a comment

ya Allah keren banget kang, pemilihan kata, luasnya pengetahuan dengan penjelasan yang luar biasa. Keren! izin reblog ya kang nuhun 🙂

Angin

I used to rule the world

Seas would rise when I gave the word

Now in the morning I sleep alone

Sweep the streets that I used to own

I used to roll the dice

Feel the fear in my enemy’s eyes

Listen as the crowd would sing:

“Now the old king is dead!

Long live the king!”

One minute I held the key

Next the walls were closed on me

And I discovered that my castles stand

Upon pillars of salt and pillars of sand

Viva la Vida nya Coldplay ini selalu masuk playlist saya belakangan. Lagu ini saya persembahkan untuk Ben Ali, Husni Mubarrak, Qadhafi, serta para pendahulu-pendahulu nya seperti Bush and the gang, Soeharto, Mugabe, Slobodan Milosevic, Idi Amin, Pinnochet, Mussolini, Hitler, Kemal Attaturk, serta siapa lagi kalau bukan penghulu para tiran dan diktator: Firaun.

Tiran ialah ironi. Di satu sisi mereka dikutuk, dibenci, dan menjadi monster…

View original post 862 more words

Tentang melawan arus.

January 30, 2015 § Leave a comment

“Jadi, kau ingin melakukan perubahan?,“ tanyamu sambil mencari-cari korek api di saku.

“iya,” jawabku singkat, sambil mengamati kau yang masih mencari-cari korek sambil memaki karena tidak juga ditemukan.

“sebentar, aku beli korek dulu,” lalu pergi degan emosi ke warung samping tempat kami minum. Kulihat dia memang aneh, pria jenius dengan emosi yang sangat labil. Tapi entah mengapa, di saat orang lain sering dibuat jengkel karena emosinya yang sering mendadak meledak, aku sangat nyaman berkawan dengannya.

“jadi..”

“Jadi aku akan melakukan perubahan.”

“ah, iya benar, perubahan. Bagaiamana caranya?” tanya kau, seperti mengetes niat ku.

“hmm.. begini. Aku akan meragukan segala tradisi yang kini ada, lalu memikirkannya kembali sacara jernih, tanpa pengaruh pemikiran-pemikiran lama yang  mendarah daging dalam tradisi. Lalu aku akan memikirkan apa yang sebenarnya diperlukan dalam organisasi kita, dan menganggapnya benar bila memang benar-benar telah jelas dan bernalar. Dengan begitu kita akan mendapatkan ‘kebenaran’ mengenai apa yang sebenarnya diperlukan.” jawabku, berusaha menjawab sejelas mungkin.

“hmm, menarik.” Kau diam sejenak, menghisap rokok di tangan kanan mu tanpa ekspresi. Aku menunggu lanjutan kata dari mu. “Jadi kau mengadaptasi metode yang digunakan oleh Descartes dalam mencari kebenaran.” Katamu.

“Bisa dibilang begitu, meski aku tidak sepenuhnya yakin. Setidaknya buku kecil Descartes yang kau berikan menjadi salah satu inspirasiku dalam merancang ini. Aku tertarik dengan metode berfikirnya”

“Jadi, kau akan meragukan segala tradisi yang ada?”

“Yap”

“Kau sudah sangat yakin dengan sikapmu itu?”

“Apa maskdumu?”

“Maksudku, apa kau yakin segala tradisi dan ide yang telah ada di organisasi kita perlu untuk diragukan?”

“Setidaknya itu yang ku dapat dari buku Descartes,” aku berusaha membela diri.

“Persetan dengan Descartes. Aku tanya pendapatmu!”. Suara mu sedikit meninggi, kau mulai menunjukkan kelabilan emosimu.

“hmm..” aku berfikir sejenak. Memasang ekspresi berfikir agar menunjukkan bahwa aku berusaha menjawab dengan sungguh-sungguh, dan sepertinya upayaku berhasil  menurunkan kembali tingkat emosi mu. “hmm, yah sepertinya aku akan melakukan hal itu. Karena bila tidak, kita tidak akan pernah melakukan perubahan yang sejati. Kita hanya menjadi pengikut arus tradisi saja, yang kebenarannya bahkan patut dipertanyakan. Maksudku, bukan berarti tradisi yang ada semuanya salah, dan aku percaya saat tradisi itu diciptakan, pasti terdapat suatu tujuan baiknya. Namun seiring waktu banyak tradisi tersebut yang kehilangan esensinya dan menjadi rutinitas belaka.”

“Tapi apa kau tahu konsekensi dari tindakan mu?” tanya mu serius sambil menyalakan puntung rokok yang kedua. Aku meminum habis susu hangat ku.

“Memang apa? Aku belum menemukan konsekuensi yang begitu perlu diberikan perhatian.”

“Apa kau tak sadar? Dengan meragukan dan berfikir ulang secara jernih, kau akan merobohkan bangunan tradisi yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun. Memang benar, banyak dari bangunan itu yang telah kaprah penggunaannya, atau hasil yang terbentuk tidak sesuai dengan desain awal. Tapi apa benar perlu dirobohkan? Dan pertanyaan mendasar yang paling penting sebelum kau benar-benar melakukan niatanmu, apakah kau sanggup membangunnya kembali setelah kau robohkan?

Aku tertegun sejenak. Aku tidak pernah berfikir sampai sana. “Aku tidak tahu,” jawabku jujur.

“Pikirkanlah. Aku suka dengan semangatmu, tapi ingatlah pada akhirnya kau akan berbentur dengan realita. Begini, yang perlu dilakukan adalah kau keluar dari pusaran atau arus tradisi itu. Lalu dari luar sana, nilailah dengan jernih. Maka kau akan tahu mana yang benar mana yang salah. Tapi ingat, bagaimana pun kau hidup dalam pusaran terseut. Kau akan kembali ke realita, ke dalam pusaran. Saat kau akan membenarkan berbagai kesalahan yang ada, maka pusaran atau arus tersebut tidak akan sertamerta mengikuti mu. Hadangan akan menimpa dirimu. Sekarang, tinggal masalah seberapa kuat kau menanggung berbagai hadangan tersebut. ”

“Seperti Nabi Muhammad SAW yang menyendiri di gua Hira, keluar dari pusaran kehidupan Mekkah dan menemukan kebenaran. Lantas saat beliau ingin meluruskan pusaran kehidupan yang salah itu, jutaan hadangan menimpanya, bahkan nyawanya terancam.” Ucapku dengan spontan.

“Entahlah, aku tidak tahu apa-apa tentang nabi mu. Tapi ilustrasimu cocok.” Jawabmu. Menghisap rokok mu, dan melanjutkan. “Oh, dan satu lagi, aku tidak pernah memaksamu untuk melawan semua arus, dan itu sangat tidak perlu. Saat kau keluar arus untuk berfikir jernih, kau akan menemukan bahwa akan ada sisi benar dari arus tersebut, atau bahkan bisa jadi kau selama ini sudah berada pada arus yang tepat sehingga kau tinggal mengikutinya saja.”

“Menarik. Dari mana kau mendapatkan pemikiran itu?”

“Entahlah, aku sedang mempelajari pemikiran Nietzche, baru sedikit memang. Tapi sejauh ini, itu pelajaran yang bisa kupetik.” Jawabmu sambil meminum kopi hitam di depanmu, atau mungkin lebih tepat disebut jagung hitam?

“Boleh aku pinjam bukunya?”

“Tidak! Aku masih membaca. Dan setelah buku teori sosial ku kau hilangkan, sekarnag aku akan berfikir dua kali untuk meinjamkan buku pada mu,” sembari melempar puntung rokokmu ke selokan.

“haha baik-baik, nanti buku itu akan aku ganti,” jawabku enteng.

“ya terserah kau,” jawabmu sambil menyalakan puntung rokok ketiga. “ngomong-ngomong, bagaimana kabar teman mu itu?”

“Oh, jadi sekarang kita akan membicarakan wanita? Hehe. Bagaimana pendapat Niezche tentang ini?” tanyaku sambil tersenyum mengejek.

“Berisik kau!” jawabmu dengan sedikit membentak. Kau menjadi salah tingkah dan kami pun tertawa. Dan entah mengapa, kau menjadi begitu bodoh bila sudah berbicara tentang topik ini. Jenius yang aneh.

ka azka gulsyan – https://azkagulsyan.wordpress.com/2013/11/05/obrolan-tentang-meragukan-arus/

Catatan Pembelajar (12): Resiko Para Pemimpi

January 29, 2015 § Leave a comment

hahaha keren kang, izin reblog yaa ;D

Angin

“Kita kalah ma”, 

“Kita telah melawan nak, nyo, sebaik-baiknya, sebenar-benarnya”

(Nyai Ontosoroh kepada Minke, Bumi Manusia -PAT-)

Dari film-film bertemakan hero atau epik ada beberapa yang saya sukai antara lain Spiderman, The Dark Knight, The Last Samurai, dan Trilogy Lord of The Ring. Apa kesamaan dari film-film tersebut? Semuanya menampilkan sosok si pahlawan dalam cita rasa yang sangat manusiawi. Dalam spiderman dikisahkan beliau pun sempat menjadi jahat. Imannya tergoda oleh syahwat kekuasaan karena merasa diri sebagai superhero. Setan pun membisiki nya untuk menyimpang dari fitrah kepahlawanannya dengan godaan kostum warna hitam yang lebih jago namun penuh dengan syahwat dan ketamakan, hingga akhirnya Spiderman bermuhasabah dan melakukan taubatan nasuha. The Dark Knight berhasil mengobati kemuakan saya terhadap superhero Hollywood yang selalu digambarkan berlebihan. Kali ini Batman menghadapi musuh yang lebih tangguh darinya hingga ia sendiri mengalami frustasi, serta sahabatnya pun akhirnya menjadi musuhnya (two faces). Ending-nya juga cukup “make sense” dan manusiawi…

View original post 1,085 more words

Aku, saya, atau gue?

January 29, 2015 § Leave a comment

Bismillah.

Pemilihan kata mungkin bisa menjadi suatu permasalahan. Dan masalah itu sangat menyenangkan, karena dari masalah akan muncul banyak pembelajaran. Asik. Nah gue lagi mempunyai masalah dalam pemilihan kata aku, saya atau gue ketika menulis. Masalahnya pemakaian kata gue terlalu kurang baik untuk beberapa orang. Dan pemakaian kata aku atau saya kadang bisa kurang memberikan makna yang seru/asik ketika sedang menceritakan atau memaparkan sesuatu di dalam tulisan. Apa ini hanya pikiran gue yang ribet?

Gue lebih sering memakai dan memilih kata “gue” dalam menulis di blog ini. Karena beberapa hal. Pertama karena blog di zenius, gue melihat penulis blog di zenius keren sekali dalam memaparkan suatu hal di dalam tulisan. Hal yang sangat mengerikan seperti science, filsafat dan lainnya. Bisa sangat seru dan menyenangkan dijelaskan di zenius dengan pemakaian bahasa gaulnya. Kedua karena raditya dika, shitlicious dan penulis komedian lainnya. Gue rasa mereka sangat luar biasa. Bisa menyulap tulisan dan membuat banyak orang tertawa dengan bahasa gaul, baik dan logisnya di dalam tulisan-tulisan mereka. Keren lah. Makanya gue memilih untuk menulis dengan pemilihan bahasa “gue” di banyak tulisan gue di blog ini.

Nah pemakaian kata aku dan saya juga tak kalah pentingnya. Banyak penulis yang menurut gue keren menggunakan kata aku dan terlihat lebih puitis dan maknanya dalam. Seperti ayah pidi baiq, ka azhar nurun ala dan lain lainnya. Kalau pemakaian kata saya ini lebih formal, biasanya yang memakai orang yang sudah cukup berumur dan bisa dikatakan dewasa. Tapi menurut gue mereka memakai kata saya tetap luar biasa dan pesan yang terkandung dalam tulisannya tersampaikan. Contohnya di tulisan-tulisan pak rinaldi munir dan pak budi rahardjo.

Jadi bagaimana ya?

Sebulan mengalahkan setahun.

January 28, 2015 § Leave a comment

Bismillah.

Gue udah komitmen buat belajar menulis. Mudah-mudahan bisa terus menjaga komitmennya. Alasannya supaya punya kebiasaan mendokumentasikan pikiran gue. Dan ga hilang dimakan waktu. Gue juga suka membaca, bacaannya apa aja. Tapi biasanya gue sortir dengan prinsip hidup gue dan science. Buku mana aja yang bagus, soalnya sekarang udah ada buanyak banget bacaan dan buku buku yang beredar. Kita gabisa membaca semuanya, harus di pilih.

Pagi ini gue nge cek statistik pengunjung blog gue. Wah kaget euy ternyata statistk pengunjung blog gue di bulan januari mengalahkan statistik pengunjung blog selama 2014. Alhamdulillah semoga bisa memberikan manfaat. Nah ini mumgkin terjadi karena gue mengikuti resep dari pak budi rahardjo. Semoga bisa konsisten dan Allah ridho dengan aktifitas ini.

Baca.Baca.Baca.Diskusi.Tulis.

Statistik

Statistik

Where Am I?

You are currently viewing the archives for January, 2015 at eibidifaiq.