Optimis Vs Pesimis.

February 25, 2015 § Leave a comment

Bismillah.

Gue ketika menulis selalu mikir panjang apakah tulisan tersebut baik apa nggak, ada yang tersinggung apa nggak, dan lain hal. Tapi tetep aja ketika tulisan beres, ada aja yang tidak suka dan mengkritik. Alhamdulillah sih masih ada yang mau baca dan gue sangat bersyukur. Ketika itu juga gue ingin sekali menghapus tulisan-tulisan gue di blog ini. Karena alasan itu, dipandang orang jelek (negatif). Tapi gue udah berkomitmen untuk tidak menghapus tulisan-tulisan gue ini. Dan gue akan belajar untuk terus jadi lebih baik dengan kritikan dari temen-temen juga yang gasengaja baca dan mampir ke blog ini. Gue punya prinsip apa yang di katakan Al-qur’an semuanya positif gaada yang negatif, makanya standarisasi blog ini ya itu, aturan-aturan islam. Karena gue seorang muslim. Tapi masih aja ada, dan mungkin banyak yang tidak suka dengan aturan islam. Entahlah.

Gue ini orangnya optimis menurut beberapa temen gue. Karena ceria mulu jarang sedih, dan dari situ gue biasa di curhatin. Aduh. Padahal nih ya sejujurnya gue juga orangnya pesimis dan baperan. Cuma ya jarang gue ungkapkan mending pendem aja dan berusaha terlihat se-woles mungkin. Caranya? Logika harus jadi raja dan selalu mengalahkan baper. Halah bahasanya.

Menurut gue sifat pesimis ini datengnya dari bokap gue dan sifat optimis ini datengnya dari emak gue. Bapak gue kata ibu, orangnya pesimis banget, kurang pede, pemalu dan juga tertutup. Setelah gue check ga gitu juga sih. Penilaian ibu aja mungkin seperti itu. Menurut gue bapak itu orangnya sangat realistis semuanya di hitung. Semua hal di modelin secara matematika. Keren dah logikanya, soalnya bapak gue jago banget math-nya. Dan emang terbukti, doi lulusan STAN. Tapi jeleknya hitungannya entah kenapa selalu lebih ke arah negatif. Maksudnya negatif gimana? Biar lebih dapet sense-nya mungkin pake contoh ya.

Gue kan belom kuliah, sekarang masih berjuang lagi dan beraktifitas di ronin NF. Bapak selalu nyiapin hal yang terburuk, yaitu udah nyiapin gue kuliah di swasta, sementara ibu? Optimis parah, “gausah di siapin dulu aja PTS-nya. Kan pasti bisa lah masuk PTN soalnya udah nunda kuliah satu tahun buat belajar.” Gitu kata ibu. Ya gue sih ikut kata mereka aja. Gue siap sama semua pilihan mereka.

Gitu contohnya.

Ibu orangnya optimis parah. Kadang kenanya delusional. Tapi keren sih. Bersyukur mempunyai kedua orang tua seperti mereka. Dan semoga gue bisa memberikan hadiah kesuksesan tiket surganya Allah untuk mereka. Soalnya kesuksesan di dunia menurut gue cuma ilusi, sukses beneran pasti di Akhirat.

Jadi?

Advertisements

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Optimis Vs Pesimis. at eibidifaiq.

meta

%d bloggers like this: