AGAMA INI BUKAN PRIORITAS PALING PENTING

December 9, 2015 § Leave a comment

Bismillah

“Maaf syaikh, saya gak sempat membuat tugasnya minggu ini”, kata brother Yusuf kepada syaikh Muhammad, guru liqo Bahasa Arab yang berasal dari Yordania.

“Why brother Yusuf? Kenapa anda tidak mengerjakan tugas bahasa Arabnya, kita kan cuma belajar sekali seminggu?” tanya Syaikh Muhammad.

“Minggu ini saya sibuk sekali syaikh di kantor, sampai lembur, pulang ke rumah, badan saya sudah capek”, jawab brother Yusuf.

“Baiklah, minggu depan tolong dikerjakan tugas bahasa Arabnya ya”, pinta Syaikh Muhammad.

“Insya Allah syaikh, saya akan kerjakan”

Minggu berikutnya brother Yusuf menyerahkan tugas bahasa Arabnya, sambil berkata,
“Sekali lagi saya minta maaf syaikh, tugasnya hanya setengah halaman, minggu ini anak saya mengajak jalan-jalan karena mereka sedang libur sekolah”.

Syaikh Muhammad memandang mata brother Yusuf dengan kasihan sambil berkata “My brother, ana percaya dengan semua alasan yang antum bilang, tetapi kalau boleh saya katakan itu bukan alasan sebenarnya kenapa antum tidak bikin tugas bahasa Arab antum”
“Oh ya syaikh?”, sepintas brother Yusuf malu dan merasa sedikit tersinggung.

Syaikh pun berkata,
“Iya, benar sekali, izinkan ana kasih tahu alasan sesungguhnya kenapa antum tidak membuat tugas, boleh kan?”
“Boleh syaikh, afwan” 
“Alasan sesungguhnya kenapa antum sampai tidak membuat tugas adalah karena belajar bahasa Arab ini bukan prioritas yang penting buat antum, itulah alasan yang sebenarnya, sesederhana itu, kalau belajar bahasa Arab ini merupakan prioritas penting buat antum, antum pasti akan menyediakan waktu sedikit dari waktu yang banyak dalam seminggu yang antum punyai… Yang diperlukan hanyalah keinginan dan perhatian”, ulas Syaikh Muhammad.

“Astaghfirullah, benar sekali yang antum bilang syaikh”, timpal brother Yusuf yang sadar, bahwa alasan alasan yang pernah disampaikannya kepada gurunya Syaikh Muhammad sebenarnya hanyalah alasan-alasan yang tidak ada hubungannya dengan tugas bahasa Arab.

Syaikh Muhammad meneruskan,
“Saudaraku, tahu gak, itu juga yang sebenarnya kenapa umat Islam ini sekarang ini mundur, terbelakang, dan tertindas di tengah peradaban manusia di zaman sekarang ini, sementara Allah telah menyatakan mereka sebagai umat yang terbaik (QS. Ali Imran: 110), tetapi kenyataannya pada saat ini tidaklah demikian.”

“Kenapa mereka tidak lagi menjadi terbaik? Sama alasannya dengan alasan antum, karena agama ini tidak lagi menjadi prioritas paling penting buat mereka. Jangankan untuk memperjuangkan tegaknya syari’at agama ini, untuk mempelajari bahasa agama mereka sendiri, mereka sangat segan dan malas sekali. Padahal mempelajari agama mereka dan memperjuangkan tegaknya Islam dalam kehidupan adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri, sebagai timbangan pahala bagi mereka di akhirat nanti dan alasan bagi Allah untuk ridho kepada mereka, sehingga Allah memberikan kehidupan akhirat yang baik bagi mereka.”

Brother Yusuf tercenung, karena dia merasakan kebenaran apa yang disampaikan gurunya ustadz Syaikh Muhammad.

“Jadi kalau antum mempunyai banyak alasan kenapa antum tidak bisa serius mempelajari bahasa Arab ini dan agama ini, alasan antum sama dengan alasan kebanyakan saudara-saudara kita Muslim saat ini, kenapa mereka tidak ikut berdakwah. Karena sesungguhnya agama ini bukan prioritas penting bagi mereka, yang menjadi prioritas penting bagi mereka adalah mendapatkan uang lebih banyak lagi, atau mendapatkan pangkat yang lebih tinggi lagi, atau tempat tinggal yang lebih bagus, atau bersenang-senang dengan keluarga, atau kenyamanan pribadi karena tidak mau diganggu dengan urusan yang tidak menguntungkan dunia mereka. Ya itulah yang menjadi prioritas paling penting bagi mereka, kehidupan dunia ini, bukan kehidupan akhirat, dan Allah telah memberitahu tentang hamba-Nya yang bersikap demmikian di dalam firman-Nya:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
(QS. Ar Ruum: 7).”

“Ketahuilah saudaraku bahwa di hari penghisaban nanti, tidak ada satupun alasan yang diterima Allah atas orang-orang yang tidak menjadikan agama-Nya menjadi prioritas paling utama, karena Allah mengetahui hati hamba-Nya masing-masing atas apa sesungguhnya yang lebih mereka prioritaskan. ”

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).”
(QS. Al Insaan: 27).

“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi.”
(QS. Al A’laa: 16)

Brother Yusuf diam, dan hatinya menggigil membayangkan bahwa dia sesungguhnya tidak punya alasan apapun di hadapan Allah di hari penghisaban nanti kenapa dia tidak bersungguh-sungguh mempelajari firman-firman-Nya, sama halnya dengan tidak punya alasan dirinya kenapa dia tidak membela agama-Nya dan memperjuangkan tegaknya perintah-perintah-Nya. Karena sesungguhnya Allah Maha Tahu hati hamba yang tidak menjadikan Allah dan agama-Nya sebagai prioritas utamanya, dan itulah hamba yang menjadikan kesenangan nafsu diri dan dunianya yang menjadi prioritas yang lebih tinggi daripada Allah Ta’ala dan agama-Nya.

Sahabat…
Jangan sampai kita menunggu sakaratul maut dimana Malaikat Maut yg datangnya tiba2 menjemput kita, baru kita menyadari betapa pentingnya mempelajari agama kita, dimana pintu taubat telah ditutup.
Na’udzubillahi mindzalik…

Barrakallahu Fiikum…

Sumber : whatsupp

Advertisements

Ketagihan Baca Di Mojok.Co

December 3, 2015 § Leave a comment

Bismillah.

Gue suka baca. Dan macam-macam jenis tulisan gue baca. Salah satunya tulisan-tulisan yang berbau politik yang kritis. Halah. Dan mojok.co sangat rekomended. Walaupun tulisannya kadang-kadang nyeleneh, tapi logis! Gokil lah. Dapat dipertanggung jawabkan!

Mengapa Jogja Seharusnya Bersyukur Para Alay Merusak Taman Bunga?

Jogja seharusnya bersyukur karena masih punya alay. Tanpanya, saya tidak yakin orang Jogja akan menyadari kalau di daerah mereka, di Gunung Selatan, sedang dikembangkan tanaman yang untuk menyebut namanya pun harus gugling dulu (sudah gugling, ngabisin kuota, masih salah pula).

Jika anak alay tak muncul, Jogja akan dipenuhi oleh orang-orang seperti Elanto Wijoyono, laki-laki serius yang bulan Agustus lalu menghadang konvoi moge dan merekam praktik pungli di salah satu pos punglisi. Yang belum dilakukan oleh Kota Jogja terhadap anak alay adalah mengoordinir mereka dengan baik dan benar.

Untuk soal yang satu ini, Jogja masih harus belajar banyak dari Jakarta, ibukotanya para alay.

Di Jakarta, kota yang dipimpin oleh gubernur paling galak sedunia, anak-anak alay diberdayakan sedemikian rupa dan sebagai penggerak roda perekonomian. Tapi tidak perlu juga studi banding sampai ke Jakarta. Ini zaman teknologi, televisi sudah memberi informasi yang cukup memadai. Lihat saja bagaimana mereka ada di acara musik pagi di televisi sampai acara talk show tengah malam. Dua puluh empat jam sehari. Anak alay tidak pernah tidur. Mereka ada dan berlipat ganda!

Anak alay juga sebenarnya mampu mengubah wajah industri pertelevisian, seandainya para pekerja televisi kita tahu kalau potensi mereka itu lebih dari sekadar menjadi penonton bayaran dan bersorak eaa-eaa. Televisi bisa mengubah kebiasaan mereka menertawakan ulah menggelikan orang desa yang kagok ketika berada di kota.

Mereka bisa berhenti memutar film Mas Slamet–anak juragan tembakau yang dimainkan Wahyu Sardono–di filmGengsi Dong, atau mencegah Kabayan versi Didi Petet saba ke Kota Jakarta. Atau berhenti menertawakan Mandra yang kagum pada pintu garasi otomatisnya Sarah. Atau berhenti menggambarkan pemuda-pemuda Jogja dan Bali yang berlogat medhok di FTV, yang selalu inferior di hadapan cewek-cewek ibukota.

Anak alay sudah membuktikan: kalau orang kota main ke desa, mereka tidak kalah noraknya.

Pokoknya, tanpa anak alay, Elly Sugigi tidak akan bisa kawin sampai empat kali, eh, maksud saya, tanpa anak alay, industri pertelevisian akan sepi. 

Negeri ini bukannya tidak pernah mengalami krisis anak alay nasional. Tahun-tahun ketika Bapak yang “itu”berkuasa di masa yang disebut Orde Baru, semua orang alay dimusuhi secara massif dan terstruktur. Tidak adaburuh yang berdemo minta kenaikan gaji. Mereka adalah alay. Nuntut gaji kok lebih tinggi dari karyawan kantoran kelas menengah. Lebay! Anak-anak muda yang baru membaca manifesto komunis juga alay, berani-beraninya bermimpi untuk demokrasi. 

Sekarang saja mereka diberi label yang mentereng: Kuminis Gaya Baru. Hasilnya? Yeah, mereka ada dan berlipat ganda!

Tanpa anak alay, acara televisi waktu itu ya gitu-gitu aja. Nggak pernah ada hiburan absurd joget kocok-jemur. Pagi ada siaran Bapak itu lagi jogging; siang, Bapak itu lagi menerima kunjungan duta besar negara tetangga; sore, Bapak itu lagi panen padi; dan malamnya, Harmoko melaporkan semua hal yang sudah kita tonton dari pagi sampai sore tadi (anak alay ada yang kenal Harmoko?).

Masih berpikir kalau zaman Bapak itu lebih enak dari zaman sekarang? Pikirkan lagi.

Nah, tapi kalau Jogja terlanjur membenci anak alay yang merusak taman bunga di Gunung Selatan tadi, tapi enggan meniru cara Bapak yang itu, mungkin mereka bisa belajar dari kota saya, Malang.

Di Malang, populasi anak alay masih sedikit–kalau bukan tidak ada. Bertahun-tahun tinggal di tempat yang berjuluk Kota Bunga, saya masih belum tahu harus ke mana kalau mau berfoto selfie sambil rebahan di atas bunga seperti Princess Syahrini atau anak alay Jogja.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari jasa orang-orang serius yang membangun Kota Malang. Orang-orang serius ini mengalih-fungsikan taman-taman di Kota Malang. Taman Indrakila sudah jadi perumahan mewah, Taman Kunir sudah jadi Kantor Kelurahan, ruang terbuka hijau di sebelah Stadion Gajayana sudah jadi mal dan hotel, dan sekarang mereka sedang merevitalisasi–apa pun artinya itu–hutan kota Malabar.

Anak alay di Malang, kalau ada, mau selfie di mana? Mau selfie di mal sudah terlalu mainstream, mau selfie di rumah mewah takut dimarahi satpamnya. Masak selfie di kantor Kelurahan?

Kalau pun ada alay di Malang, mereka sekarang terlalu sibuk bekerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Merekalah yang punya ide untuk mengecat pohon beringin berumur ratusan tahun di Alun-alun Kota Malang dengan cat warna-warni. Mengetahui hal tersebut, Abah Anton, walikota Malang, jelas geram dengan ulah para anak alay anak buahnya itu.

“Saya sedang berada di Jakarta. Lihat di facebook, sudah ramai soal beringin dicat itu. Masyarakat mengira saya yang menginstruksikan. Saya langsung perintahkan untuk kembalikan beringin seperti semula,” katanya.

Pantas saja Pak Wali gak tahu, lha sibuk fesbukan. Sampeyan walikota apa alay?

Jadi, buat para alay, saya ingin berkata: “Tetap alay, tetap lebay. Saya bersamamu.” Dan buat orang-orang yang sudah terlanjur marah-marah–dan karenanya terlihat semakin tua–perkara kelakuan anak alay di taman bunga di Jogja, saya cuma bisa bilang: “Salah siapa? Salah gue? Salah keluarga gue? Salah temen-temen gue?”

“Suka-suka gue dong!”

Sukses Dan Kerja Keras

December 1, 2015 § Leave a comment

reblog pak. saya fans bapak hehehehe

Padepokan Budi Rahardjo

Ada orang yang bertanya bagaimana saya sampai kepada posisi sekarang (dalam artian “sukses” – meski secara terbatas). Jawabannya adalah kerja keras. Meskipun ada yang berkata seharusnya kerja cerdas (smart) bukan keras (hard work), saya masih tetap berpendapat bahwa kerja keraslah yang lebih menentukan.

Dalam banyak hal saya terus belajar dan pantang menyerah, baik di bidang pendidikan, bisnis, musik, olah raga, dan lain-lain. Banyak orang yang menyerah karena berbagai alasan, antara lain:

  • capek, lelah (padahal saya juga sama);
  • orang lain kerjanya lebih santai dari saya (saya tidak pernah membanding-bandingkan diri dengan orang lain, tidak ada tempat iri hati. biar saja mereka santai dan terlihat lebih sukses. mereka bukan saya);
  • bosan;
  • dan segudang alasan lainnya.

Mau tahu kesuksesan band the Beatles? Mereka kerja keras. Ada suatu masa yang mana mereka manggung lebih dari 160 kali dalam satu tahun. Artinya, setiap dua hari sekali mereka manggung. Terus menerus dalam satu tahun. Saya yakin…

View original post 382 more words

Where Am I?

You are currently viewing the archives for December, 2015 at eibidifaiq.