Agar Tak Menjadi Buih. (2)

October 15, 2016 § Leave a comment

Bismillah.

Agar tak Menjadi Buih bagian 2
(Tentang Apresiasi)

Saya baru berbincang dengan kawan yg kini menjadi dosen di Malaysia; Negara tetangga yang kini mengungguli Indonesia di beberapa hal, termasuk riset dan jumlah publikasi ilmiah.

Kata kawan saya, secara Individu sebenarnya orang2 Indonesia lebih pandai dan kreatif. Namun Sistem dan budaya organisasi mereka lah yang membuat sekumpulan individu yang sebenarnya “kurang unggul” menjadi lebih unggul.

Kawan saya memang mendapat insentif yg lebih, mulai dari dana riset hingga akses data ke Petronas. Namun menyalahkan serta menganggap ketiadaan “insentif” sebagai faktor tunggal keTidak unggulan Indonesia saya kira tidak tepat.

“The first step to solve the problem is admitting that we DO have the problem.”

Sebenarnya saya tidak terkejut dengan pemaparan kawan saya, karena 9 tahun lalu ketika berkunjung ke Malaysia saya sudah membawa oleh2 sebuah hipotesis : Satu orang Indonesia jauh lebih unggul dibanding satu orang Malaysia, namun 10 orang Malaysia akan mengungguli 10 orang Indonesia.

Meski kita bisa bekerja sekeras China, seefisien Jerman dan sekreatif Amerika (seperti yang saya tulis di bagian pertama), Kita tetap akan kalah jika kita tidak memperbaiki hal2 terkait bagaimana kita berinteraksi, berOrganisasi (dalam apapun levelnya), atau dengan kata lain bagaimana BerMuamalah dengan sesama.

…………..

Di Amerika saya sering merasakan momen :”Ah, ternyata nggak segitunya.”, atau “Oh, gitu doang ternyata.”

Dulu saya punya imajinasi bahwa orang2 yg bekerja di Fermilab, Cern, SLAC, JLAB, atau accelerator partikel lainnya adalah orang2 Jenius. Namun setelah tiga tahun saya kerja di JLAB, juga setelah gaul dengan orang Fermilab dan Cern, terus terang kesan yg muncul adalah : “Ah, ternyata nggak segitunya.”

Setelah saya amati, orang2 disana sebenarnya punya skill yang spesifik dan biasa2 saja. Namun yang luar biasa adalah organisasi kerja mereka.

JLAB di desain tahun 1980an, dan Prof. Saya bilang kalau accelerator particle itu diDesain dengan teknologi yang belum ada pada saat itu. Hal ini dikarenakan pembangunan accelerator dengan berbagai part detectornya memerlukan waktu Belasan tahun. Jadi mereka harus “berspekulasi” terkait teknologi apa yang akan tersedia hingga 15 sampe 20 tahun kemudian.

Kira2 tim kerja seperti apa dibalik pembangunan Fasilitas yang jumlah part detector nya lebih banyak dibanding pesawat ulang alik? Bagaimana mereka bekerja membuat sesuatu yg diDidesain dengan teknologi yg belum ada pada saat desain diSahkan? Bagaimana mereka mengintegrasikan individu2 yg sebenarnya biasa saja?

Budaya Apresiasi

Akhirnya saya sadar, dibalik momen2 “Ah ternyata nggak segitunya” tersirat budaya organisasi yg luar biasa, yakni budaya apresiasi.

Saat saya baru melangkah riset, Prof. Saya sudah me”Marketing”kan saya dengan brand :”Zulkaida is the expert on the omega photoProduction .” Beliau mempromosikan saya kemana2, mempertemukan saya dengan theorist dari Rusia dan Jerman. Beliau juga mendorong saya untuk berbicara di konferensi internasional.

Bahkan, yang mengharukan adalah beliau mengalihkan undangan sebagai pembicara di Eropa ke senior saya yg mau lulus, untuk memberinya kesempatan membangun jejaring.

Padahal analisis saya masih jauh dari finish, dengan kata lain beliau mempertaruhkan reputasinya. Kan bisa saja akhirnya saya bikin malu beliau. Namun yang terjadi adalah satu lecutan agar saya bisa memenuhi ekspektasi Prof. Saya.

Seringkali kawan sekantor saya memanggil dengan antusias :”Hi zulkaida, Look what I have made!” Meski setelah saya lihat hanya sedikit improvisasi coding, tapi tetap saya bilang : “You did a great Job dude.”

Hal-hal semacam ini, alias budaya apresiasi lah yang membuat orang menjadi tekun dan bersenang2 dalam bekerja. Tak heran, alih2 “pembantaian” ketika sidang disertasi yang kita lihat malah bertaburan ungkapan2 “you did a wonderful job.”

Budaya apresiasi serta keberanian untuk memberi kesempatan pada anak muda untuk berbuat (termasuk berbuat salah) adalah salah satu kunci kreatifitas Amerika.

Ketika Leslie dewan membuat perusahaan pembangkit nuklir dengan teknologi salt molten reactor, selain usianya yg belum genap 30 dia juga belum PhD. Maka saya salut dengan beberapa Venture Capital yang mau meresikokan uangnya pada anak muda minim pengalaman.

Mungkin mereka sadar bahwa apresiasi dan memberi kesempatan adalah kunci pertumbuhan jangka panjang.

Bukankah Rasulullah juga mengangkat Usamah bin Zaid menjadi panglima saat usianya belum genap 20 tahun?

………….

Berbagai padahal?

Setiap manusia atau sekumpulan manusia (organisasi) tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya. Dan mohon maaf, saya amati orang Indonesia lebih jeli melihat keburukan alih2 kebaikan yang layak diApresiasi.

Padahal..
Bukankah Rahmat Allah mendahului Murka-Nya?

Padahal..
Ada riwayat tentang Hampir saja Allah menurukan Adzab, lalu Allah tahan karena ada hewan2 melata yang mencari Rezeki, orang2 tua yang berMunajat di waktu malam.

Padahal..
Ada riwayat tentang Malaikat yang diperintahkan untuk mengorek catatan kebaikan manusia, Allah memerintahkan malaikat untuk mencari alasan apapun agar si Manusia bisa masuk surga.

Bukankah itu semua anjuran agar kita lebih mengutamakan kebaikan yg kita lihat? Alih2 memperbesar besarkan keburukan? Mengedepankan Strength dibanding weakness? Opportunity dibanding threat?

Suatu saat ada seorang laki2 yang ingin mengadukan istrinya yang “rewel” ke Khalifah Umar. Namun ia urungkan, karena yg ia lihat justru Sayidina Umar yang diam saja ketika Istrinya ngomel2.

Kata Umar :” Saya berterima kasih karena istri saya sudah memasak, mencuci baju dsb. Jadi saya lebih baik diam bersabar saja.”

Bukankah itu anjuran untuk mengedepankan terima kasih (apresiasi) sebelum kemarahan?

………

Tiga tahun saya ngaji, inti pelajaran yg diajarkan guru saya hanya seputar : jangan membenci, jangan Suudzon, jaga Silaturahmi. Beliau jg mengajarkan tiga komponen dakwah : Benar, baik dan juga Indah.

Oleh karena itu, meski saya ini orang NU/Muhamaddiyah, tapi saya membenci dan menghindari wacana yang membenturkan antara Islam Nusantara dengan gerakan Islam TransNasional.

Meski kadang tidak sejalan dengan “political movementnya”, Namun saya mengApresiasi gerakan tarbiyah dimana bagian dari perjuangannya berbuah kebebasan BerJilbab (contohnya). Seingat saya, sampai tahun 2000an Foto ijazah mengharuskan telinga dan rambut terlihat, memaksa kawan2 putri melepas Jilbabnya.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski tidak setuju dengan ide pokok Hizbut Tahrir, Namun saya mengAmini bahwa Institusi Politik adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan dakwah. Bukankah Wali songo dulu juga mendirikan institusi politik bernama kerajaan Demak? Juga Cirebon?

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski kadang agak tidak sejalan dengan “rigid”nya kawan2 Salafi, namun saya mengApresiasi niat mereka untuk menjaga. Bukankah Lata, Uzza dan berhala2 lain di Jaman Rasul dulunya adalah orang2 sholeh? Mereka adalah orang Sholeh yang kemudian berevolusi dari dicintai, dikagumi, dikenang, hingga diJadikan berhala. Jadi saya berprasangka baik bahwa rigid nya kawan Salafi (diantaranya) adalah untuk menjaga agar kejadian memBerhalakan orang Sholeh tidak terulang lagi.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

……….

Kenapa ini penting?

Karena budaya apresiasi akan meminimalisir konflik2 yang tidak perlu alias tidak produktif.

Jaman saya kuliah, kami pernah mengadakan lokakarya yang berujung debat semalam suntuk membahas tata tertib. Seakan semuanya kompak mencari celah untuk dikritisi. Hasilnya : mangkrak!

Kini, dengan filosofi diatas saya dan satu orang kawan saya menginisiasi Indonesian student association disini. AD/ART dibuat sejam (tentu saja banyak celahnya). Lantas pelan2 mulai dari buat acara Indonesian night yang sederhana, berlanjut dengan menjalin kontak dengan persatuan Indonesia se Florida, mengundang mereka ke FSU, hingga bikin acara bareng dengan asosiasi student se-ASEAN, serta mengontak media kampus agar acara tersebut diLiput koran kampus. Semua terwujud dalam waktu kurang dari 6 bulan, dengan filosofi mengedepankan apresiasi diatas kritik.

………..

Epilog

Saat ini saya sedang membaca buku berjudul Organizing genius : The secret of Creative Collaboration. Buku ini menceritakan bagaimana cara kerja beberapa tim seperti Manhatan project (yang bikin bom atom) hingga tima rahasia “skunk works” (yang mendesain jet tempur US saat perang dunia).

Kesimpulan sederhananya, setelah memperbaiki produktifitas (inti dari tulisan saya di bagian pertama), Hal selanjutnya yg harus diperbaiki adalah tentang bagaimana sikap, mental dan attidude dalam berkelompok/organisasi (saya mulai dari budaya apresiasi di tulisan ini).

Tujuannya satu : Agar kita tak menjadi buih

From : Zulkaida Akbar .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Agar Tak Menjadi Buih. (2) at eibidifaiq.

meta

%d bloggers like this: