Abdul Aziz 1115210001.

November 30, 2016 § 2 Comments

Bismillah.

Gue selalu di ajarin ibu untuk jadi orang yang fair. Ibu itu buset dah rajin banget mengkritik. Gasuka ya bilang gasuka, tapi wajib membudayakan apresiasi. Terus jangan suka memuji orang. Karena kritik itu (biasanya) membangun, pujian itu (seringnya) memabukan. Memuji orang itu sangat berbeda dengan apresiasi walaupun terlihat mirip.

Semester 1 dan 2 gua di fakultas ekonomi sangat-sangat tidak serius. Maksimalin absen, hampir ngga uas karena absen jebol. Tapi akhirnya tetep bisa dong, karena gua walaupun kampret gini tetep bertanggung jawab :P. Latar belakang gue kaga serius di dasari pada tekanan abang gue yang di ui dan adek gua yang di ugm. Gue kaya orang gila masih-masih aje ngejar itb. Tapi apadaya karena diri ini masih bodoh dan akan terus merasa bodoh gue gagal lagi. Dan mewajibkan gue untuk harus sangat mencintai universitas pancasila jakarta. Almamaternya ria ricis adeknya oki setiana dewi. Eh jangan terlalu cinta sama kampus deng nanti gue ga lulus lulus lagi. Hehehe.

Sans.

Semester awal kuliah gua anti banget sama masuk organisasi. Karena gue tau konsekuensi logis masuk organisasi adalah kesibukan yang lumayan dan harus tanggung jawab. Tapi entah kenapa ada manusia kampret datang menghampiri gue. Ngajak2in masuk rohis. Dan gue sangat tertampar dengan ajakannya. Ya gimane engga, manusia ini perokok. Muka beler sering mabok. Ngajak-ngajak masuk organisasi mulia macem rohis. Masa gua yang udah bertahun-tahun terjun di organisasi ini kalah sama manusia macam ini. Gua jahat banget yak wkwkwkwk. Maafin jis. Tapi seperti itulah yang ada di pikiran gua saat itu. Dan apa yang terjadi? Gua beneran tenggelam kembali di organisasi ini. Yea. Alhamdulillah. Allahuakbar.

Terimakasih loh jis ajak-ajak gua masuk organisasi yang (kayanya) banyak pahala ini. Langsung gapake lama gua ngeluarin uang buat bayar diklat 150rb soalnya gua gamau kalah sama manusia ini. Dan tak lupa, karena gua (ngerasa) punya skill mengumpulkan massa. Gua ajaklah teman-teman sekelas saat itu di amp. Dapetlah si aldhi, alfian ikut. Padahal gua udah ajak agung dan andre dan temen-temen yang lain tapi mereka gabisa. Yaudahlah masih cupu berarti skill mengumpulkan massa gua saat itu. He.

Sorry nih bagi pembaca blog yang gatau ajis itu siapa gua akan jelasin dulu secara look. Abdul ajis ini secara tampilan kaya gadun, gendut jalan lama. Mageran. Muka serem jarang senyum padahal suka ngelawak macem orang betawi asli. Gaada skill fashionnya sama sekali. Padahal gua tau bajunya, sepatunya mahal2. Bayaran kuliah di up aja mahal. Gaada keren-kerennya lah. Wkwkwkwkwkwkwk. Dan emang beneran dia nih jomblo sih.

Terus kalo gua nongkrong sama anak-anak lain di kampus pasti jawabannya kalo lagi ghibahin ajis gini kata-katanya.

” lu temenan sama abdul ajis 01 yang bego itu iq? wkwkwkwk ”

Gitulah kira-kira. Maap ya jis begitu kenyataannya.

wklwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk.

Tapi nih yak gua sangat bersyukur bisa kenalan sama ajis.  Karena apa?

  1. Tak ada ajis, mungkin gua gabakal masuk rohis al-kahfi yang super kece ini. Alhamdulillah! ketemu temen-temen seperjuangan yang tau pentingnya berdakwah.
  2. Gue belajar dari ke kampretan ajis. Gimana dia orangnya sans banget. Ini skill loh. Tetap tenang di situasi tergila apapun.
  3. Gue belajar dari ke kampretan ajis. Dia anti disetir kalo di kampus. Merdeka, ga ada takut-takutnya sama senior. Walaupun kadang kelewat batas. Gokil! Di tengah senioritas yang kentel masih ada aja orang macem ini di kampus. Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir ya jiss ahaha.
  4. Gue belajar dari ke kampretan ajis. Bahwa hidup di jakarta ini keras. Karena gua mahasiswa jakarta jadi ngerasian lah kerasnya jakarta. Jangan lembek lah jadi orang.
  5.  Bisnis men!!! Gila sih gembel-gembel gini ajis pengusaha. Gausah di tanya nih usahanya gimana. Motornya aja vespa mahal, hapenya ganti2 gapake mikir berapa harganya. Samsung bosss!

Meskipun begitu gua sangat tidak suka dengan ke-tawadhuannya ajis yang sangat berlebihan. Iya tawadhu itu keren dan rasulullah pun sangat tawadhu hidupnya. Tapi saking tawadhunya ajis, dia ini di anggap bego sama orang-orang di kampus. Kuping gua paling panas kalo temen gua di jelek-jelekin. Rasanya ingin mencaci maki balik. Astagfirulloh.

Karena rumus pertemanan gue.

Gapeduli se kampret apa orang itu. Kalo gua udah suka dengan sifatnya gua akan berteman dan gua berteman dengan siapapun. Dan gua tidak akan mengkhianati teman-teman gua. Tapi kalo temen gua mengkhianati gua ya sans terus. Toh boomerang itu pasti ada di dunia dan di akhirat 🙂 

Jangan resign dari rohis lah jis. Eh tapi kalo lu resign ajak2 gua dong wkwkwkw. Karena toh berdakwah ga harus di rohis yak. Bisa jadi lu dakwah di pkm PAS, gua di thalaseta. Ga salah kan?

Hati hati dengan penulis! #isengseriussenang

Bisa jadi kau akan di abadikan dengan tulisan tulisannya. Karena kehebatanmu, kebaikanmu dan hal hal menyenangkan lainnya. Atau bisa jadi kau dibinasakan oleh tulisannya. Karena yakinlah pena lebih tajam di banding senjata terhebat di dunia! 🙂 -(eibidifaiq, bukan pidibaiq apalagi younglex. 2016) #menulisbaik #project1hari1 #budayaliterasi #budayamembacamenulis

13418

 

Anak Anak Gila Squad.

November 24, 2016 § Leave a comment

aplot-wordpress

Bismillah.

Tak pedulilah orang mau mencaci kita, menghina kita, mau membunuh kita. Selama yang kita bela akidah. Gaada yang bisa ganggu gugat even nyawa harus di korbankan. Akidah pondasi dasar islamnya seseorang sob! Gaboleh kalah. Kalah boleh, tapi kematian lah yang mengalahkan.

Aseli sih kaya udah kenal lama gua sama elu semua ketika yang kita teriakan, yang menjadi keresahan, dan yang kita perjuangkan adalah hal yang sama! Karena sejatinya teman sejati bukan yang baik, bukan tentang lamanya waktu pertemanan, bukan tentang intensitas pertemuan, bukan yang jahat kritik mulu. Teman sejati sejatinya adalah yang sama2 menguatkan demi mencapai keridhoan Allah swt. Gokil lau semua sob. Semoga tetep istiqomah gilanya. Jangan takut, jangan takut, jangan takut. #aksibelaislam #aksi4november

 

Politik Itu Kotor?

October 31, 2016 § Leave a comment

Bismillah.

Politik itu kotor, menjijikan, isinya orang ga bener semua. #project1hari1 #isengseriussenang

Ah sering sekali aku dengar statemen yang berkeliaran seperti ini. Apakah benar? Masa sih? Mang iya?

Padahal kata kakek aristoteles dan dosenku di kelas sospol, prof. Faishal santiago S.H M.H. politik itu adalah Usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Masa iya negatif dan buruk?

Oh mungkin karena kamu yang berfikiran buruk ini tentang politik, kebanyakan nonton vlog awkarin ngomong kasar, jadi pikiran mu ikutan jelek teruskan. Loh? Atau kebanyakan liat tentang korupsi di tv karena kata younglexpun dalam lirik ggsnya, tv tv isinya cuma pembodohan. Makanya dilihatinnya pun yang jelek2 terus. Masa iya?

Coba lah kamu cari yang baik2. Di kampus misalnya apakah politik seperti itu. Atau kamu mau nongkrong sama aku dan teman teman hebatku @khalidmantap @elvanalifian yang keren abis dalam menulis, dan kritis mampus. Sini aku kasih tau kalo politik itu memang iya ada yang buruk, tapi tak selamanya buruk koo 🙂

Ayolah kuliah jangan hanya masuk kelas aja. Takut dengan dosen, senior dll. Kalo seperti itu apa bedanya kamu dengan siswa sd-sma. Hilangkan saja kata “maha” mu sekarang. Right?

Hahaha maafkan aku yang memang suka menulis hal yang (sepertinya) tidak bertanggung jawab dan ngeselin 🙂

Masjid Keren!

October 30, 2016 § Leave a comment

Bismillah.

Masjid Jogokariyan dengan Kas Saldo hampir selalu NOL

Pengelolaan masjid terbaik saat ini (mungkin) adalah di *masjid Jogokaryan* Djokdja.

Saldo kas hampir selalu 0 (nol) karena digunakan untuk pembiayaan kegiatan umat… Hal ini mendorong jamaah untuk bersodakoh…

Manajemen masjid ini bisa dicontoh..

Artikelnya agak panjang….
Selamat menikmati…

👇🏿👇🏿👇🏿

*Mengintip Uniknya Kegiatan Masjid Jogokariyan – Yogyakarta Jun 8, 2016*

BataraNews.com – Masjid Jogokariyan terletak di tengah-tengah kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta. Masjid ini menjadi tempat inspirasi bagi 4 RW yang ada disekitarnya.

Namun kini, masjid ini sering menjadi rujukan bagi masjid-masjid lainnya dalam hal manajemennya yang unik dan patut dicontoh bagi masjid-masjid lainnya.

1. Memilik Data Base Warga

Setiap tahun masjid Jogokariyan memiliki program Sensus Masjid yang bertujuan untuk mendata jamaahnya dan sebagai informasi awal kegiatan.

Data Base dan Peta Da’wah *Masjid Jogokariyan Yogyakarta* tak hanya mencakup : Nama KK dan warga, Pendapatan, Pendidikan dan lain-lain,  tetapi juga sampai kepada :
– Siapa saja yang sholat & yang belum sholat.
– Yang sholat di Masjid & yang belum sholat di Masjid.
– Yang sudah berzakat atau yg belum.
– Yang sudah ber-qurban atau yg belum ber-qurban.
– Yang aktif mengikuti kegiatan masjid atau yang belum.
– Yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana.

Dari Data Base diatas kita bisa tahub Bahwa dari 1030 KK (4000-an penduduk sekitar masjid) yg belum sholat tahun 2010 ada 17 orang Lalu bila dibandingkan dengan data tahun 2000 yang belum sholat 127 orang.
Dari sinilah perkembangan Da’wah selama 10 tahun terlihat.

Data jamaah juga digunakan tuk Gerakan shubuh Berjamaah.
Pada tahun 2004 dibuat Undangan Cetak layaknya Undangan Pernikahan tuk Gerakan Shubuh…
By name…
UNDANGAN :
Mengharap kehadiran
Bapak/Ibu/Saudara…
dalam acara Sholat Shubuh Berjamaah, besok pukul 04.15 WIB
di Masjid Jogokariyan.

Undangan itu dilengkapi hadis-hadis keutamaan Sholat Shubuh… hasilnya…??

Silahkan mampir ke Masjid Jogokariyan untuk merasakan Jamaah Shubuh yang hampir seperti Jamaah Sholat Jum’at.

2. Sistem Pendanaan Masjid

Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak membuat unit Usaha agar tidak menyakiti jamaah yang juga memiliki bisnis serupa. ini harus dijaga, misalnya, tiap pekan Masjid Jogokariyan biasa menerima ratusan tamu, sehingga konsumsi untuk tamu diorderkan bergilir pada jamaah yang punya rumah makan.

Sistem keuangan Masjid Jogokariyan juga berbeda dari yg lain.
Jika ada Masjid mengumumkan dengan bangga bahwa saldo infaknya jutaan, maka Masjid Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumumaan saldo-infak harus sama dengan NOL Rupiah !
Infak itu ditunggu pahalanya tuk jadi amal sholih, bukan untuk disimpan di rekening Bank.

Sebab pengumuman infak jutaan akan sangat menyakitkan jika tetangga Masjid ada yang tak bisa ke Rumah Sakit sebab tak punya biaya atau tak bisa sekolah.

Masjid yang menyakiti Jamaah ialah tragedi da’wah…
Sehigga dengan pengumuman saldo infak sama dengan NOL Rupiah, maka jamaah lebih bersemangat mengamanahkan hartanya. Pun kalau saldo Masjid masih jutaan yaa maaf kalau malah membuat  infak jamaahnya nggak semangat.

Masjid Jogokariyan pada tahun 2005 juga meng-inisiasi Gerakan Jamaah Mandiri yaitu : Jumlah biaya setahun dihitung dibagi 52…
ketemu biaya pekanan…
dibagi lagi dgn kapasitas masjid…
lalu ketemu biaya per-tempat sholat… Setelah itu disosialisasikan…
Kemudian Jamaah diberitahu bahwa jika dalam sepekan mereka ber-infak dengan jumlah “segitu” maka dia katagori *Jamaah Mandiri…*
Adapun jika berinfak lebih, maka dia termasuk *Jamaah Pensubsidi…*
Tetapi…
Jika dia tidak ber-infak atau berinfak kurang maka dia termasuk *Jamaah di Subsidi…*
Kemudian sosialisasi ditutup dengan kalimat :
*”Doakan kami tetap mampu melayani ibadah anda sebaik-baiknya…”*

Gerakan Jamaah Mandiri_ Alhamdulillah sukses menaikkan infak pekanan Masjid Jogokariyan hingga 400%..
Toh ternyata orang malu  jika ia beribadah tapi disubsidi…

3. Sarana dan Prasarana Masjid

Wifi di Masjid Jogokariyan sudah dari tahun 2004 dan itu “gratis-tis”, sehingga Jamaah baik dari anak-anak maupun dewasa tdk perlu repot-repot ke WarNet yg sangat memungkinkan mereka untuk membuka situs yang bukan-bukan.

Kami juga menyediakan ruang olahraga atau bermain yang terdapat alat olahraga seperti tenis meja dan lain-lain, sehingga anak-anak atau remaja atau pemuda yang ingin bermain atau berolahraga di Jogokariyan bisa kerasan atau betah. Daripada “mereka” main atau ber-olahraga diluar masjid yang biasanya waktu mereka saat itu bertabrakan dengan waktu sholat.

 4. Unik Lainnya yang ada di Masjid Jogokariyan

Tiap kali renovasi Masjid. Takmir Masjid berupaya  tak membebani jamaah dengan Proposal sebab Takmir hanya pasang spanduk : “Mohon maaf ibadah Anda terganggu, Masjid Jogokariyan sedang kami renovasi.” Nomor rekening tertera di bawahnya.

Sejak tahun 2005 Masjid Jogokariyan sudah menjalankan program Universal Conference Insurance dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah Sakit atau klinik manapun secara Gratis-tis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan.

Dan kami juga biasa memberi hibah Umrah bagi jamaah yang betul-betul rutin Jamaah Sholat Shubuh di Masjid Jogokariyan.

Satu kisah lagi untuk menunjukkan pentingnya data dan dokumentasi yakni Masjid Jogokariyan punya foto pembangunannya di tahun 1967, gambarnya seorang Bapak sepuh berpeci hitam, berbaju batik, dan sarungan sedang mengawasi  para tukang pengaduk semen untuk Masjid Jogokariyan.

Di tahun 2002/2003 Masjid Jogokariyan direnovasi besar-besaran kemudian foto itu dibawa kepada putra si kakek dalam gambar tersebut. Putranya seorang juragan kayu.
Kami katakan pada Putra kakek yang ada di foto tadi :
“Ini gambar Ayahanda Bapak ketika membangun Masjid Jogokariyan, kini Masjid sudah tak mampu lagi menampung Jamaah, sehingga kami bermaksud merenovasi masjid, Jika berkenan tuk melanjutkan amal jariyah Ayahanda Bapak, kami tunggu partisipasi bapak di Jogokariyan.

Alhamdulillah…
foto tua tahun 1967 itu membuat yang bersangkutan nyumbang 1 Miliar Rupiah dan mau menjadi Ketua Tim Pembangunan Masjid Jogokariyan sampai sekarang…Ajib…!!
Foto tua yg telah  dibingkai indah itu ternyata “seharga” 1 Miliar.
***

Source : dari mane mane haha.

Agar Tak Menjadi Buih. (3)

October 15, 2016 § Leave a comment

Bismillah.

Agar tak menjadi buih bagian tiga
(Kreatifitas ala Amerika)

Sebagai mantan orang nomor satu di Organisasi kemahasiswaan kampus, saya cukup percaya diri untuk mengatakan kalau saya ini pemberani. Namun prasangka ini berubah setelah sampai di Amerika. Saya merasa “kecil” disini.

Saya memilih Florida State Univ. karena alasan sederhana, disini sudah ada beberapa generasi mahasiswa fisika dari Indonesia. Jadi saya tidak perlu khawatir untuk beradaptasi di Lingkungan baru karena banyak orang yang akan membantu saya nantinya.

Dengan pertimbangan inilah saya menolak peluang untuk kuliah di kampus lain, mengingat saya akan menjadi orang Indonesia pertama yang kuliah disana. Dengan bahasa Inggris yang masih pas pasan, saya tidak bisa membayangkan kesulitan yang akan muncul ketika saya harus mencari apartemen sendiri, mengurus printilan dokumen seperti SSN dan sebagainya.

Oleh karena itu, saya lumayan tertohok ketika bertemu dengan seorang berusia 20an, perempuan, dan sudah solo traveling ke belasan negara; bukan ke negara2 yang populer untuk wisata serta ramah turis melainkan negara2 tidak terkenal yang penduduknya bahkan tidak berbahasa Inggris.

Selain itu saya juga bertemu beberapa kawan yang pernah menjadi sukarelawan di Ghana. Mereka (anak2 S1) membuat organisasi sosial, mengumpulkan dana, membuat program2 sosial di Afrika, serta memobilisasi sukarelawan untuk pelaksanaan program hingga monitoring. Hal semacam ini jujur tak pernah terbayang waktu saya kuliah dulu.

Pernah pula bertemu dengan anak S1, punya beberapa store AT&T (perusahaan telekomunikasi), punya perusahaan marketing consultant, juga berkecimpung di organisasi sosial.

Cerita2 seperti inilah yang membuat saya merasa “kecil”, belum lagi ketika membaca cerita2 macam leslie dewan; pemudi lulusan S1 yang kemudian membuat perusahaan pembangkit nuklir ketika usianya dibawah 30 tahun.
……..

Jika nuansa “efisiensi ala Jerman” muncul ketika bersama prof. saya, maka aroma “kreatifitas amerika” kentara ketika saya berbaur dengan American. Tak heran, raksasa teknologi mulai dari Microsoft, google, apple, Facebook lahir di Amerika. Demikian juga dengan trend teknologi seperti Big data, data science, cloud computing, Flying car, tesla dll; semua muncul dari Amerika.

Kreatifitas adalah keberanian untuk mencipta sesuatu yang belum ada, atau menjelajahi hal hal baru.

Dua hal yang melekat pada kreatifitas adalah ide dan keberanian/keyakinan. Ide dapat muncul dari mana saja, namun keyakinan serta keberanian untuk mengeksekusi ide lah yang langka.

Di tangan orang yg berani, ide gila pun bisa dieksekusi meski seakan orang itu tak punya kapasitas.

Elon musk adalah bintang dekade ini. Pendiri spaceX, tesla, paypal dll ini beberapa waktu lalu mengejutkan dunia setelah berhasil mendaratkan roket di laut, Menandai era “renewable rocket”. Demikian juga dengan Mobil listrik nya yang sebentar lagi mengisi jalanan Amerika, dan mungkin juga akan merevolusi industri mobil. Saat ini misi besar dia adalah mendaratkan manusia di Mars.

Yang menarik, elon musk tidak punya latar belakang sama sekali sebagai Insinyur roket, atau teknik mesin. Elon hanya punya gelar sarjana dengan dua major; Fisika dan Ekonomi.

Sebagai orang yang sama sekali tidak berlatar belakang engineering, ketertarikan elon membuat roket diawali dari sebuah buku tentang roket. “Kayaknya bikin roket seru nih.. ” Barangkali ini yg ada di benak elon kala itu.

Saya yakin, Elon bukan satu-satu nya yang punya ide demikian. Barangkali kita pun punya ide atau niatan sama. Bukankah kita juga sering mengalami momen2 : “Kayaknya seru kalau kita bikin ini” atau ” Asyik ya kalo kita bisa bikin ini.” Yang membedakan cuma satu : Elon punya keberanian mengeksekusinya.

………

Baby step! kata kata favorit dari salah satu Profesor saya, seorang Yahudi polandia berkewarganegaraan Meksiko. Beliau selalu menekankan pentingnya mengeksekusi satu ide dengan langkah kecil, baby step yang pelan pelan ditumbuhkan dengan tekun. Kalau kata pembimbing saya : “At least we have something to start,” mantra yang selalu muncur diakhir diskusi kami. Sehingga selama ini saya selalu punya rencana riset yang clear setiap harinya.

Sukses Elon bukan dongeng satu malam. Sebelum Ia menjual produk teknologi Jutaan dollar, elon musk menjual program game sederhana dengan bahasa BASIC ketika berusia 12 tahun.

Demikian juga dengan cerita booming pokemon-go, ada kerja 20 tahun dibaliknya. Baby stepnya adalah game multiplayer, lantas perlahan tumbuh menjadi google earth sebelum jadi pokemon go.

……..

Alfatihah

Alfatihah, surat pendek yang dibaca tiap kali Shalat ini sulit untuk diamalkan. Namun mengamalkannya boleh jadi adalah kunci keutamaan.

Orang yang sudah mengamalkan “Segala Puji hanya milik Allah, tuhan semesta alam” berarti hatinya tidak bergeser sedikitpun ketika dipuji atau dicela, tidak berang dan tidak pula senang.

Orang yang sudah mengamalkan ayat berikutnya yang diawali dengan “Ar-Rahman” berarti tidak takut lagi dengan ketidakpastian masa depan, karena sudah yakin se yakin2nya bahwa Allah telah menjamin takaran rezekinya.

Bukankah Ibunda Hajar dan Ismail pernah “terdampar” ditengah gurun panas dan sangat gersang. Namun karena Allah telah menetapkan rizki, maka munculah air zamzam.

Ketakutan yang membelenggu kreatifitas saya, melemahkan daya cipta barangkali karena saya belum bisa mengamalkan Alfatihah. Ketakutan saya untuk mengeksekusi ide barangkali karena saya belum sepenuhnya meresapi “Ar-Rahman”, Dzat yang telah menakar rezeki dgn sempurna, sehingga saya takut menghadapi ketidakpastian yang muncul ketika mengeksekusi ide.

Ketidaksabaran saya dalam memelihara baby step barangkali karena belum sepenuhnya mengamalkan surat Al-Insyirah : Dibalik kesusahan ada kemudahan.

…….

Saya membayangkan jika saja sebagian besar kelas menengah dari umat dan bangsa ini memiliki ide atau visi yang muncul dari hatinya, lalu mengeksekusinya dengan keyakinan akan pertolongan Allah, lantas membangun baby step yang dipelihara pelan dan penuh ketekunan dengan semangat :

“Inna ma’al ‘usri yusra” (dibalik kesusahan ada kemudahan).

Maka kita tak akan lagi menjadi buih.

Karena visi/ide besar, tanpa ditindaklanjuti dengan baby step yang clear dan terukur berarti khayalan atau panjang angan-angan.

Dan Rasulullah membenci panjang angan angan.

From : Zukaida Akbar

Agar Tak Menjadi Buih. (2)

October 15, 2016 § Leave a comment

Bismillah.

Agar tak Menjadi Buih bagian 2
(Tentang Apresiasi)

Saya baru berbincang dengan kawan yg kini menjadi dosen di Malaysia; Negara tetangga yang kini mengungguli Indonesia di beberapa hal, termasuk riset dan jumlah publikasi ilmiah.

Kata kawan saya, secara Individu sebenarnya orang2 Indonesia lebih pandai dan kreatif. Namun Sistem dan budaya organisasi mereka lah yang membuat sekumpulan individu yang sebenarnya “kurang unggul” menjadi lebih unggul.

Kawan saya memang mendapat insentif yg lebih, mulai dari dana riset hingga akses data ke Petronas. Namun menyalahkan serta menganggap ketiadaan “insentif” sebagai faktor tunggal keTidak unggulan Indonesia saya kira tidak tepat.

“The first step to solve the problem is admitting that we DO have the problem.”

Sebenarnya saya tidak terkejut dengan pemaparan kawan saya, karena 9 tahun lalu ketika berkunjung ke Malaysia saya sudah membawa oleh2 sebuah hipotesis : Satu orang Indonesia jauh lebih unggul dibanding satu orang Malaysia, namun 10 orang Malaysia akan mengungguli 10 orang Indonesia.

Meski kita bisa bekerja sekeras China, seefisien Jerman dan sekreatif Amerika (seperti yang saya tulis di bagian pertama), Kita tetap akan kalah jika kita tidak memperbaiki hal2 terkait bagaimana kita berinteraksi, berOrganisasi (dalam apapun levelnya), atau dengan kata lain bagaimana BerMuamalah dengan sesama.

…………..

Di Amerika saya sering merasakan momen :”Ah, ternyata nggak segitunya.”, atau “Oh, gitu doang ternyata.”

Dulu saya punya imajinasi bahwa orang2 yg bekerja di Fermilab, Cern, SLAC, JLAB, atau accelerator partikel lainnya adalah orang2 Jenius. Namun setelah tiga tahun saya kerja di JLAB, juga setelah gaul dengan orang Fermilab dan Cern, terus terang kesan yg muncul adalah : “Ah, ternyata nggak segitunya.”

Setelah saya amati, orang2 disana sebenarnya punya skill yang spesifik dan biasa2 saja. Namun yang luar biasa adalah organisasi kerja mereka.

JLAB di desain tahun 1980an, dan Prof. Saya bilang kalau accelerator particle itu diDesain dengan teknologi yang belum ada pada saat itu. Hal ini dikarenakan pembangunan accelerator dengan berbagai part detectornya memerlukan waktu Belasan tahun. Jadi mereka harus “berspekulasi” terkait teknologi apa yang akan tersedia hingga 15 sampe 20 tahun kemudian.

Kira2 tim kerja seperti apa dibalik pembangunan Fasilitas yang jumlah part detector nya lebih banyak dibanding pesawat ulang alik? Bagaimana mereka bekerja membuat sesuatu yg diDidesain dengan teknologi yg belum ada pada saat desain diSahkan? Bagaimana mereka mengintegrasikan individu2 yg sebenarnya biasa saja?

Budaya Apresiasi

Akhirnya saya sadar, dibalik momen2 “Ah ternyata nggak segitunya” tersirat budaya organisasi yg luar biasa, yakni budaya apresiasi.

Saat saya baru melangkah riset, Prof. Saya sudah me”Marketing”kan saya dengan brand :”Zulkaida is the expert on the omega photoProduction .” Beliau mempromosikan saya kemana2, mempertemukan saya dengan theorist dari Rusia dan Jerman. Beliau juga mendorong saya untuk berbicara di konferensi internasional.

Bahkan, yang mengharukan adalah beliau mengalihkan undangan sebagai pembicara di Eropa ke senior saya yg mau lulus, untuk memberinya kesempatan membangun jejaring.

Padahal analisis saya masih jauh dari finish, dengan kata lain beliau mempertaruhkan reputasinya. Kan bisa saja akhirnya saya bikin malu beliau. Namun yang terjadi adalah satu lecutan agar saya bisa memenuhi ekspektasi Prof. Saya.

Seringkali kawan sekantor saya memanggil dengan antusias :”Hi zulkaida, Look what I have made!” Meski setelah saya lihat hanya sedikit improvisasi coding, tapi tetap saya bilang : “You did a great Job dude.”

Hal-hal semacam ini, alias budaya apresiasi lah yang membuat orang menjadi tekun dan bersenang2 dalam bekerja. Tak heran, alih2 “pembantaian” ketika sidang disertasi yang kita lihat malah bertaburan ungkapan2 “you did a wonderful job.”

Budaya apresiasi serta keberanian untuk memberi kesempatan pada anak muda untuk berbuat (termasuk berbuat salah) adalah salah satu kunci kreatifitas Amerika.

Ketika Leslie dewan membuat perusahaan pembangkit nuklir dengan teknologi salt molten reactor, selain usianya yg belum genap 30 dia juga belum PhD. Maka saya salut dengan beberapa Venture Capital yang mau meresikokan uangnya pada anak muda minim pengalaman.

Mungkin mereka sadar bahwa apresiasi dan memberi kesempatan adalah kunci pertumbuhan jangka panjang.

Bukankah Rasulullah juga mengangkat Usamah bin Zaid menjadi panglima saat usianya belum genap 20 tahun?

………….

Berbagai padahal?

Setiap manusia atau sekumpulan manusia (organisasi) tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya. Dan mohon maaf, saya amati orang Indonesia lebih jeli melihat keburukan alih2 kebaikan yang layak diApresiasi.

Padahal..
Bukankah Rahmat Allah mendahului Murka-Nya?

Padahal..
Ada riwayat tentang Hampir saja Allah menurukan Adzab, lalu Allah tahan karena ada hewan2 melata yang mencari Rezeki, orang2 tua yang berMunajat di waktu malam.

Padahal..
Ada riwayat tentang Malaikat yang diperintahkan untuk mengorek catatan kebaikan manusia, Allah memerintahkan malaikat untuk mencari alasan apapun agar si Manusia bisa masuk surga.

Bukankah itu semua anjuran agar kita lebih mengutamakan kebaikan yg kita lihat? Alih2 memperbesar besarkan keburukan? Mengedepankan Strength dibanding weakness? Opportunity dibanding threat?

Suatu saat ada seorang laki2 yang ingin mengadukan istrinya yang “rewel” ke Khalifah Umar. Namun ia urungkan, karena yg ia lihat justru Sayidina Umar yang diam saja ketika Istrinya ngomel2.

Kata Umar :” Saya berterima kasih karena istri saya sudah memasak, mencuci baju dsb. Jadi saya lebih baik diam bersabar saja.”

Bukankah itu anjuran untuk mengedepankan terima kasih (apresiasi) sebelum kemarahan?

………

Tiga tahun saya ngaji, inti pelajaran yg diajarkan guru saya hanya seputar : jangan membenci, jangan Suudzon, jaga Silaturahmi. Beliau jg mengajarkan tiga komponen dakwah : Benar, baik dan juga Indah.

Oleh karena itu, meski saya ini orang NU/Muhamaddiyah, tapi saya membenci dan menghindari wacana yang membenturkan antara Islam Nusantara dengan gerakan Islam TransNasional.

Meski kadang tidak sejalan dengan “political movementnya”, Namun saya mengApresiasi gerakan tarbiyah dimana bagian dari perjuangannya berbuah kebebasan BerJilbab (contohnya). Seingat saya, sampai tahun 2000an Foto ijazah mengharuskan telinga dan rambut terlihat, memaksa kawan2 putri melepas Jilbabnya.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski tidak setuju dengan ide pokok Hizbut Tahrir, Namun saya mengAmini bahwa Institusi Politik adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan dakwah. Bukankah Wali songo dulu juga mendirikan institusi politik bernama kerajaan Demak? Juga Cirebon?

Dan karena itu saya menghormati mereka.

Meski kadang agak tidak sejalan dengan “rigid”nya kawan2 Salafi, namun saya mengApresiasi niat mereka untuk menjaga. Bukankah Lata, Uzza dan berhala2 lain di Jaman Rasul dulunya adalah orang2 sholeh? Mereka adalah orang Sholeh yang kemudian berevolusi dari dicintai, dikagumi, dikenang, hingga diJadikan berhala. Jadi saya berprasangka baik bahwa rigid nya kawan Salafi (diantaranya) adalah untuk menjaga agar kejadian memBerhalakan orang Sholeh tidak terulang lagi.

Dan karena itu saya menghormati mereka.

……….

Kenapa ini penting?

Karena budaya apresiasi akan meminimalisir konflik2 yang tidak perlu alias tidak produktif.

Jaman saya kuliah, kami pernah mengadakan lokakarya yang berujung debat semalam suntuk membahas tata tertib. Seakan semuanya kompak mencari celah untuk dikritisi. Hasilnya : mangkrak!

Kini, dengan filosofi diatas saya dan satu orang kawan saya menginisiasi Indonesian student association disini. AD/ART dibuat sejam (tentu saja banyak celahnya). Lantas pelan2 mulai dari buat acara Indonesian night yang sederhana, berlanjut dengan menjalin kontak dengan persatuan Indonesia se Florida, mengundang mereka ke FSU, hingga bikin acara bareng dengan asosiasi student se-ASEAN, serta mengontak media kampus agar acara tersebut diLiput koran kampus. Semua terwujud dalam waktu kurang dari 6 bulan, dengan filosofi mengedepankan apresiasi diatas kritik.

………..

Epilog

Saat ini saya sedang membaca buku berjudul Organizing genius : The secret of Creative Collaboration. Buku ini menceritakan bagaimana cara kerja beberapa tim seperti Manhatan project (yang bikin bom atom) hingga tima rahasia “skunk works” (yang mendesain jet tempur US saat perang dunia).

Kesimpulan sederhananya, setelah memperbaiki produktifitas (inti dari tulisan saya di bagian pertama), Hal selanjutnya yg harus diperbaiki adalah tentang bagaimana sikap, mental dan attidude dalam berkelompok/organisasi (saya mulai dari budaya apresiasi di tulisan ini).

Tujuannya satu : Agar kita tak menjadi buih

From : Zulkaida Akbar .

Agar Tak Menjadi Buih.

October 15, 2016 § Leave a comment

Bismillah.

Lagi-lagi gue seneng banget nge-share hal yang menurut gue (kayanya) sangat inspiring! Walaupun bukan karya sendiri. Tapi tulisan ini wajib banget di baca sama para pembaca blog ini. Aseli dah. Dan ternyata tulisan-tulisan bagus kalo menurut gue ga harus merogoh kocek yang dalam. Ga harus beli buku mahal-mahal. Yang harus di lakukan adalah mencari, menyortir dan ga lelah nyari sampe dapet

Agar Tak Menjadi Buih.

(Sebuah Instropeksi diri)

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan2 di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan2 sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita2 republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian?Mudah diterka, karena Bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan2nya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siang nya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama2 menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

………….

Bagaimana dengan Amerika?

Sekarang sedang demam Pokemon-Go, Game yang diprediksi kelak akan sepowerful Facebook, Sampai ada tulisan “Macroeconomic analysis of Pokemon Go”. Nyatanya, meski si pokemon didapat dari Nintendo (jepang) namun basis google earth dan augmented reality nya dari Amerika.

Dan semua trend semisal data science, uber, big data, crowdfunding, AirBnB, Tesla sampai flying car juga berasal dari Amerika.

Kekuatan Amerika terletak pada keberaniannya untuk mencipta apa yang belum ada. Meski kesenjangan disini sangat tinggi, Amerika punya orang2 dengan kreatifitas dan keberanian luar biasa untuk mencipta sesuatu yang sama sekali baru.

Tengoklah keberanian leslie dewan, pemudi lulusan MIT yang mendirikan perusahaan pembangkit Nuklir yang menjanjikan terobosan2 teknologi dalam usia yang belum genap 30 tahun (transatomic energy). Tentu tengok pula keberanian venture capital yang mendanainya.
………….

Bagaimana dengan China?

Dua nama yang saling bertegur sapa dengan Si Indonesia, dini hari di Nuclear Research Building adalah Wei Cha dan Jun Ji.

Memang tidak ada yang meragukan etos dan jam kerja sang Naga.
………….

Mantra?

Almarhum Prof. Iskandar Alisjahbana, rektor ITB yang legendaris tersebut terkenal dengan jargon dan visinya untuk “MenYahudikan Pribumi”.

Tapi si Indonesia punya mantra yang lain : Jam Kerja China, Efisiensi Jerman, Kreatifitas dan Keberanian Amerika.
…………

Epilog? Berbagai padahal.

Apa kaitannya dengan judul postingan : Agar tak menjadi buih?

Merupakan nubuwat Kanjeng Nabi bahwa Umat Islam ini jumlahnya banyak, tapi ibarat buih; tak berkualitas.

Padahal..
Dalam surat Al Ashr Allah bersumpah demi sang waktu.

Padahal..
Orang Sholeh dulu jika siang ibarat singa dan jika malam ibarat Rahib (pembagian waktu yang clear, distinct).

Padahal..
Bagian dari iman adalah menjauhi hal yang sia sia (selalu produktif).

Padahal..
Kanjeng Nabi sudah memperingatkan kalau nikmat yang sering terlupakan adalah waktu luang, kesempatan (Nasihat untuk deadliner seperti saya).

Padahal..
Allah sudah mempersilahkan/menantang hamba-Nya untuk menembus langit, dan tidaklah kita dapat menembusnya “illa Bi Shulthon” , kecuali dengan kekuatan/ilmu pengetahuan (Keberanian untuk mencoba, termasuk hal2 yg sebelumnya belum pernah ada).

Padahal..
Dalam surat Al Inshirah Allah berfirman : “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh2 (Urusan yang lain).” (Perintah untuk tidak menunda2).
………..

Maka si Indonesia yang beragama Islam ini pun kemudian berpikir bahwa tidaklah perlu menjadi Jerman, China, atau american.

Cukup menjadi Islam saja.

Si Indonesia ini juga tersadar, bahwa mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri.

Gagasan memang Memiliki kuatan, namun Keteladanan jauh lebih kuat dibanding gagasan.

Dan Allah mencintai Hamba-Nya yang produktif (self reminder).

Semoga tangan ini dapat merengkuh dunia, namun tidak satu biji zarah pun masuk ke hati.

From : Zulkaida Akbar

Where Am I?

You are currently browsing the Uncategorized category at eibidifaiq.